Kencur Wulung
Jumat 29 Desember 2017

Bendo– Petani di desa Bendo merupakan petani palawija, hal ini dikarenakan wilayah geografis desa Bendo yang merupakan tanah merah dan minim pasokan air, sehingga areal pertanian di desa Bendo merupakan pertanian tadah hujan. Beberapa jenis palawija yang ditanam warga ialah singkong, kacang tanah, ketela, kencur, dan sebagainya.

Purwadi adalah salah satu petani yang lebih memilih menanami lahannya dengan kencur. Di lahan seluas 1000 meter persegiyang beralamat di dusun Dadimulyo yang lokasinya tidak jauh dari perkampungan rumahnya, Purwadi menanami lahannya dengankencur jenis wulung.

Pria empat puluh enam thauntahun ini mengatakan dahulu desa Bendo merupakan salah satu daerah penghasil kencur terbesar di Boyolali. “Dari jaman nenek moyang saya sudah menanam kencur, dulu sekitar 40 tahun yang lalu, menanam kencur bisa untuk membeli rumah, ternak, dan sebagainya. Sekarang cuma dijadikan sambilan oleh warga untuk memanfaatkan lahan kering,”jelas Purwadi.

Untuk bibit kencur wulung, Purwadi membelinya di Pasar Bendo dengan harga Rp14.000 setiap kilogramnya. Purwadi dengan senang hati menjelaskan cara menanam kencur di lahannya, yang pertama yakni tanah dibajak dan dibuat lubang secara berjajar dan tanah dibuat seperti parit, lalu ditaburi dengan pupuk kompos kemudian baru ditanami bibit. Bibit yang akan ditanam dipotong kecil-kecil lalu ditanam berjajar dengan jarak 7 cm dengan tanaman yang lain. Sekitar umur 1 bulan tanah dibersihkan dari rumput lalu diberi pupuk, umur 3 sampai 4 bulan pemupukan yang kedua, umur satu tahun kencur baru bisa dipanen, panen kencur minimal 1 tahun, jika dibawah 1 tahun harganya akan turun.

Warga desa Bendo juga menggunakan sistem bantengke. Bantengke ialah kencur yang berumur 1 tahun tidak dipanen namun dibiarkan dan ditambahi tanah lagi supaya kencur tambah mekar, jika umur kencur sudah 2 tahun maka kencur wajib dipanen dan tidak dapat diundur lagi. Untuk memanen kencur dengan cara digali menggunakan linggis dan pacul.

Ketika panen tiba, jumlah yang didapat tidak pernah pasti, hal ini dikarenakan oleh faktor cuaca, serangan hama namun untuk bibit satukilogramjika ditanam dapat dipanen sekitar 10 sepuluh kilogram. Kencur-kencur tersebut sudah diambil oleh tengkulak dan sebagian dijual di pasar bendo dan pasar Nogosari dengan harga yang tidak stabil, jika harga turun per kilonya Rp.5000, dan ketika harga naik mampu menembus Rp.10.000 per kilonya.

Purwadi tetap menanam kencur, pria yang juga menjabat sebagai Kadus 2 Desa Bendoini berharap agar harga kencur dapat stabil dan mendapatkan bantuan bibit serta bantuan pengendali hama dari pemerintah.

Berita Terkini
Gabah Petani Diburu Penebas
Selasa 28 November 2017
Embung Tekan Kekeringan
Selasa 28 November 2017
Wakil Bupati Lantik Pejabat Baru
Selasa 28 November 2017
Rembug Warga